La Sorcière: Buanamekar
Delapan belas pasang kaki melangkah pada jalan kecil menanjak menuju Dusun Neglasari, dan itu kaki-kaki kami. Berikut celoteh mendera pucuk-pucuk padi yang tegak menginginkan matahari. Meskipun bayangan tegak lurus dengan kaki, tetapi kami tetap pergi. Dan itu kali pertama, di mana saya merasa bahwa tiga puluh hari berikutnya, tidak akan sia-sia.
Tiga puluh hari ini ternyata mengubah hidup kami sepenuhnya. Karena tidak ada polusi udara, juga distraksi rupa-rupa yang bikin sakit kepala. Melainkan hanya ada delapan belas mahasiswa yang mencoba membagi segalanya. Membagi sayup-sayup adzan shubuh yang terdengar dari balik selimut, lalu kucuran air wudhu yang dingin menusuk. Kemudian membagi fajar yang muncul samar-samar dari balik jendela. Juga membagi kabut yang menetes jadi embun basah pada dedaunan. Bahkan kamar mandi yang tidak seharusnya dibagi, tetapi tidak ada cara lain lagi. Berikut tiang jemuran yang dihampiri tiga hari sekali karena di sini matahari senang sembunyi. Lalu malam-malam panjang yang diisi macam-macam; pemutaran film yang mengantar lelap teman-teman, cerita masa lalu yang tidak bisa dilupakan, sandal jepit yang jadi rebutan, tawa bersahut dengkur dari kamar… Semua yang mulanya tidak mungkin kami bagi, tetapi akhirnya luruh juga. Karena bukan satu-dua menit yang dihabiskan, tetapi tiga puluh malam. Satu masa perputaran rasi bintang dihabiskan dalam pekat langit sisa hujan. Dan kami tidak mungkin pulang tanpa merasa kehilangan.
P.S. Saya ingin pagi di mana senyum kalian semua mengusir seluruh kabut pergi.
Notes
-
muskarianny reblogged this from meigess
-
septianaregina reblogged this from meigess
-
septianaregina liked this
-
inggiqariba reblogged this from meigess
-
meigess posted this
